Seperti apa makna Ibadah Minggu di gereja HKBP ? Beberapa jemaat khususnya kaum muda menganggap Ibadah di HKBP monoton. Pertanyaan adalah apakah mereka memahami makna Ibadah Minggu di HKBP ? Jangan-jangan mereka berkata demikian karena ketidakpahaman mereka. Semoga rangkuman ini menjadi pencerahan bagi warga jemaat.
Ketika kita memasuki gedung gereja kita (sebagai contoh HKBP Bonang Indah – Tangerang ), maka dapat kita katakan ruang gereja itu dapat dibagi menjadi dua bagian.
Bagian pertama ialah bagian tempat duduk untuk anggota jemaat, yaitu bangku-bangku yang berjejer di dalam gedung. Saya memahami bagian pertama ini sebagai bagian wilayah dunia yakni bagian tempat para umat Tuhan yang akan bertemu dengan Tuhan. Itulah yang diajarkan kepada saya pada waktu kami masih belajar sebagai calon sintua.
Bagian kedua ialah altar. Adapun altar itu dipahami sebagai wilayah kudus. Bagian kedua ini diartikan sebagai wilayah surgawi. Oleh karena itu bagi kita, altar itu pun kudus adanya. Di tengah-tengah altar ada sebuah peti berupa meja empat persegi panjang, persis di depan mimbar khotbah yang selanjutnya melekat ke tembok dimana diatasnya ada salib. Meja altar tersebut, dipahami sebagai meja makan Tuhan karena di atas meja itu diletakkan roti dan anggur perjamuan. Ketika pelayanan sakramen perjamuan kudus kita di undang untuk menghadiri upacara makan bersama di sekitar meja makan Tuhan (itulah sebabnya kita berdiri di depan altar ketika menerima roti dan anggur perjamuan).
Menurut pemahaman saya setelah persembahan selesai di kumpulkan oleh kolektan, maka persembahan tersebut yang kita persembahkan kepada Tuhan seyogyanya di taruh di atas meja makan Tuhan. Mengingat persembahan adalah sesuatu yang kudus maka tempat yang paling pas adalah meja makan Tuhan, bukan seperti sekarang di taruh di luar altar (di atas kotak kayu persembahan).
Dalam setiap ibadah di gereja kita berdirilah seorang perantara, antara “wilayah Ilahi”dengan anggota jemaat “wilayah dunia”. Kita melihat secara kasat mata, dia yang berdiri di sana adalah seorang sintua (malim). Tetapi pada hakekatnya, secara iman, dia yang berdiri itu adalah Tuhan Yesus Kristus. Sebab hanya Dia yang dapat mengantarai manusia dengan Allah. Dialah satu-satunya perantara manusia dengan Allah. Jadi sintua yang berdiri di altar itu adalah representasi dari Tuhan Yesus Kristus. Oleh karena itu, betapa pentingnya Sintua yang maragenda sadar betapa kudus tugasnya memimpin ibadah tersebut.
Ia berdiri di sana atas nama Tuhan, untuk memimpin ibadah perjumpaan antara jemaat dengan Allah. Kita tahu tidak ada manusia yang dapat mempertemukan Allah dengan manusia kecuali Tuhan Yesus Kristus.
Jadi jelas, tugas sintua maragenda adalah mempertemukan Allah dengan manusia di dalam ibadah minggu itu.
Dari tata letak “meja makan Tuhan” dengan bangku-bangku, kita lihat ada jarak pemisah. Memang jarak antara Allah yang kudus dengan manusia yang berdosa cukup jauh. Jarak surga dan dunia juga cukup jauh. Itulah sebabnya dibutuhkan seorang perantara, agar dimungkinkan pertemuan dan terjadi komunikasi di dalam pertemuan itu. Ketika Tuhan Yesus berdiri di altar tersebut, di dalam diri sintua yang menjadi liturgis, maka manusia yang duduk di bangku-bangku itu pun dapat mengadakan komunikasi dengan wilayah surgawi, yaitu altar. Sekarang yang menjadi pertanyaan ialah sudahkah semua sintua yang bertugas sebagai liturgis itu menyadari makna dari tugasnya tersebut ?
Kita datang ke gereja pada hari minggu, bukan hanya untuk mendengarkan firman Allah. Jika kita datang hanya untuk mendengarkan firman Allah, hal itu dapat kita lakukan di dalam rumah kita masing-masing. Kita datang ke gereja dan beribadah untuk berjumpa dengan Tuhan yang bangkit. Di dalam ibadah minggu, kita merefleksikan ibadah yang di selenggarakan oleh para malaikat di sorga. Di dalam Doa Bapa Kami, Tuhan Yesus mengajarkan kepada kita agar kita berdoa: “Jadilah kehendak-Mu di bumi seperti di sorga. “
Menurut kitab Wahyu pasal 4 dan 5, ada kebaktian di Sorga dilihat oleh Rasul Yohanes. Ibadah di Sorga itu memusatkan penyembahannya pada Dia yang duduk di tahta itu dan Dia yang berdiri di tengah-tengah tahta itu, Anak Domba seperti telah disembelih, yaitu Yesus Kristus sendiri dengan segala karya-Nya. Jadi inti sari dari ibadah Kristen ialah penyembahan kepada Allah dengan meninggikan karya Yesus Kristus. Yesus Kristus adalah pusat dari ibadah Kristen.
Berbeda dengan ibadah beberapa aliran belakangan ini yang menonjolkan Roh Kudus dengan karunia-karunia-Nya, ibadah HKBP merefleksikan ibadah sorgawi yang dilaporkan kitab Wahyu.
Menurut DR. AA. Sitompul dalam bukunya mengenai tata ibadah, ada ibadah di tiga tempat. Ibadah yang pertama diadakan di Sorga, sebagaimana dilaporkan oleh kitab Wahyu. Ibadah kedua ada di bumi, maksudnya di dalam ibadah minggu yang kita lakukan. Dan ibadah yang ketiga ada di dalam hati kita. Ketiganya haruslah berada di dalam satu ikatan yang harmonis, seperti cord di dalam irama musik. Sorga mengambil nada do, sementara kebaktian minggu kita mengambil nada mi, dan yang terakhir hati kita mengambil nada sol. Setelah itu ketiganya sama-sama menyanyikan pujian kepada sang Bapa, Anak dan Roh Kudus! Bila nada yang mereka nyanyikan tidak pas, maka akan terasa nyanyian itu fals.
Banyak orang mengatakan bahwa ibadah HKBP monoton, tanpa lebih dahulu menggali makna dari ibadah itu sendiri. Ibadah kharismatik, yang sangat populer sekarang ini, bahkan di dalam hati warga HKBP, menurut pandangan saya sangat bersifat ekspresif. Hal yang sangat ditonjolkan di dalam ibadah itu adalah perasaan manusia. Saya kurang melihat apa yang mereka refleksikan melalui ibadah itu!
Karya Allahlah yang harus direfleksikan di dalam ibadah, lalu manusia memberikan respons terhadap karya itu melalui penyembahannya.
Subyek yang paling dominan di dalam suatu ibadah ialah Allah. Itulah yang direfleksikan ibadah HKBP menurut penghayatan saya.
Sebelum kebaktian dimulai, biasanya parhalado partohonan (sintua) berkumpul lebih dahulu di konsistori. Pada dasarnya bukan hanya sintua yang bertugas pada hari itu yang harus hadir di dalam konsistori. Melainkan seluruh sintua yang datang ke dalam kebaktian tersebut. Sebab seluruh sintua adalah satu corps, mereka bertanggung jawab atas pelaksanaan kebaktian tersebut. Jadi sekalipun seseorang tidak bertugas pada hari itu, dia wajib masuk ke konsistori, minimal untuk mendoakan mereka yang bertugas pada hari itu. Itulah wujud dari tanggung jawab kepada Allah, yang telah memanggil sintua menjadi pelayan-Nya di jemaat tersebut.
Di konsistori sintua memeriksa seluruh acara yang akan di selenggarakan, tentang kelayakannya. Kemudian acara yang sudah di periksa tersebut di bawa ke hadirat Allah di dalam doa. Semua acara dari permulaan hinga akhir disampaikan di dalam doa, seolah-olah kita mengatakan kepada Allah, inilah yang akan kami lakukan di hadapan-Mu. Segala sesuatu yang tidak di doakan di dalam konsistori, seyogianya tidak dapat dilakukan di dalam ibadah. Kecuali warta yang sangat mendesak. Jangan sampai ada acara tambahan yang disampaikan kepada liturgis di tengah-tengah kebaktian.
Setelah parhalado berdoa, maka lonceng gereja dibunyikan (HKBP Bonang Indah tidak punya lonceng, maka biasanya pakai lonceng dari keyboard) yakni pertanda bahwa seorang Raja segala raja dan Tuhan segala tuhan akan datang memasuki tempat ibadah. Anggota jemaat pun memberi respons terhadap bunyi lonceng itu dengan mempersipkan diri (hohom). Maka parhalado pun memasuki ruangan. Selanjutnya Paragenda mengajak jemaat untuk mempersiapkan hati dan pikiran dengan doa pribadi (berdoa dalam hati).
ACARA KEBAKTIAN
1. JEMAAT MENYANYI
Kebaktian dimulai dengan jemaat menyanyi. Biasanya nyanyian yang dipilih untuk minggu itu disesuaikan dengan nama minggu di dalam Almanak HKBP. Seperti kita ketahui kalender gereja terdiri dari 52 minggu dalam satu tahun.
Pertanyaan sekarang diajukan kepada kita, mengapa kita menyanyi ? . Nyanyian pembuka (pertama) merupakan ajakan untuk berkumpul karena akan bertemu dengan Allah.
2. VOTUM / INTROITUS / HALELUYA / DOA
Apakah makna votum itu? Maknanya adalah peresmian. Dengan votum itu, kita percaya Allah berinisiatif hadir di dalam acara tersebut.
Sekali lagi .. inisiatif Allah untuk hadir melawat umatNya.
Ketika Allah mengatakan jadilah terang, maka terang itu pun jadi. Dengan diucapkan oleh liturgis”Di dalam nama Allah Bapa, dan di dalam nama Anak-Nya Yesus Kristus, dan di dalam nama Roh Kudus yang menciptakan langit dan bumi”, maka Allah secara nyata hadir di dalam ibadah itu dan mempersatukan kita menjadi satu marga di hadapan Tuhan (tidak ada lagi kaya-miskin, terhormat-hina dan lain sebagainya, melainkan kita sama dihadapan Allah dan tidak ada perbedaan).
Kehadiran dari Allah Tri Tunggal itu sekaligus menjadi dasar dari perjumpaan tersebut. Jadi jelas bukan karena marga, atau adat, maka ibadah itu dilakukan. Bukan juga karena nenek moyang, bukan karena latar belakang ekonomi, sosial, budaya, politik. Namun karena nama Allah semata-mata. Allah itu adalah Bapa kita, di dalam ibadah itu Ia menerima anak-anak-Nya. Ia adalah Bapa yang memelihara kehidupan kita. Yesus sebagai Anak, adalah saudara yang menyelamatkan kita dari dosa kita, Dia adalah Penolong yang memanggil, menyertai dan menguduskan Gereja-Nya.
Untuk merefleksikan semua yang telah dikerjakan-Nya itu, kita berkumpul untuk berjumpa dengan Dia. Di dalam perjumpaan itu, Ia mengutarakan isi hati-Nya kepada kita melalui firman dan sakramen. Sementara itu kita mengutarakan isi hati kita melalui nyanyian dan doa. Di samping makna votum seperti yang sudah kita utarakan di atas, maka kita juga dapat mengatakan bahwa dengan hadirnya Allah yang kudus di dalam ibadah itu, maka orang yang hadir di dalam ibadah itu pun dikuduskan oleh Allah yang kudus.
Oleh karena itu orang pada hakekatnya diharapkan untuk tidak datang terlambat, sebab ia tidak akan turut dikuduskan melalui votum tadi. Namun kenyataannya, banyak orang yang terlambat datang! Pertanyaan sekarang ialah: apakah mereka yang terlambat itu turut dikuduskan atau tidak? Jawabannya bisa ya, bisa juga tidak. Hal itu tergantung orang yang terlambat itu. Jika ia mengakui keterlambatan tersebut sebagai suatu kesalahan di hadapan Allah, maka ia turut dikuduskan. Jika tidak di akui, maka ia tidak turut dikuduskan.
Setelah votum itu, acara berikutnya ialah introitus. Allah mengatakan isi hati-Nya melalui firman yang sesuai dengan nama minggu itu. Sementara nama-nama minggu itu adalah refleksi dari karya Yesus Kristus, dari sejak awal sampai akhir. Seperti kita katakan di atas, kebaktian kita bersifat reflektif, maka dari sejak awal, Allah telah menyatakan isi hati-Nya kepada kita melalui introitus itu. Nats itulah yang akan membimbing kita di dalam minggu yang akan kita jalani. Ayat itu adalah ayat yang diperuntukkan bagi kita. Sebagai respons kita atas firman itu, maka kita menyanyikan Haleluya tiga kali. Seyogianya kita menyanyikannya dengan sukacita. Namun kita lihat kenyataan di dalam jemaat kita, seringkali Haleluya itu kita nyanyikan dengan lamban. Haleluya itu adalah ungkapan sukacita karena Allah telah berfirman kepada kita, pada hal Allah belum mempersoalkan dosa kita. Oleh karenanya seharusnya kita menyanyikan Haleluya itu dengan cepat.
Setelah Haleluya, kita mendengar perantara itu menaikkan doa. Sebagai perantara, maka dia berada di dalam dua sisi. Sisi yang pertama, ia di sisi Ilahi dan di sisi kedua di sisi manusia. Ketika ia mengutarakan votum, maka dia berada di sisi Allah. Ketika dia mengutarakan doa, maka itu adalah doa manusia, maka dia berada di sisi manusia. Ada orang mengatakan bahwa di Gereja Anglikan, liturgis itu ketika ia mengutarakan votum, maka ia berdiri di altar, tapi pada saat ia menaikkan doa, ia berpindah dari altar ke arah jemaat, dan berbalik menghadap altar untuk menaikkan doa tersebut. Dari sana sangat jelas bahwa ia berada di dua sisi. Seharusnya di dalam ibadah kita pun dilaksanakan. Namun karena hal itu dari sejak semula tidak dilaksanakan, maka kita tidak tahu bahwa demikianlah maknanya. Seperti yang sudah kita katakan di atas, sintua itu menaikkan doa jemaat, dan karena yang berdoa itu adalah perantara Manusia dengan Allah (Tuhan Yesus) di dalam diri sintua tersebut, maka kita dapat katakan bahwa doa itu akan didengar Allah. Tuhan Yesus juga membawakan doa-doa yang dinaikkan jemaat di dalam hatinya ketika mereka sedang berdoa di bangku-bangku mereka tatkala kebaktian belum dimulai. Karena doa itu adalah doa-doa kita juga, maka kita pun harus mengaminkan doa itu di dalam hati kita.
3. JEMAAT MENYANYI
Seperti telah diutarakan di atas, nyanyian adalah respons terhadap Allah, karena Ia telah hadir, ia menguduskan kita, Ia telah menerima doa-doa kita. Alangkah indahnya, jika kita menyanyikan pujian itu dengan segenap hati. Untuk itu kita seyogianya telah tahu lebih dahulu lirik dari nyanyian itu, karena kita telah membaca lebih dahulu, karena kita tidak terlambat datang, karena itu dapat mempersiapkan diri dengan baik.
4. HUKUM TUHAN
Sementara kita menyatakan isi hati melalui nyanyian, liturgis akan menyatakan isi hati Allah. Ia berkata: Dengarlah hukum Tuhan Allah!
Allah yang kudus di dalam kasih-Nya Ia menerima orang beriman. Namun kita harus mengenal diri kita. Hukum Tuhan di dalam pemahaman Gereja kita adalah ibarat cermin. Hukum Tuhan adalah kehendak Allah, jalan yang harus ditempuh oleh umatNya. Pada saat kita mendengar hukum Tuhan dibacakan, maka seyogianyalah kita menemukan diri kita di dalam perspektif kehendak Allah. Tentulah sebagai respons terhadap hal itu kita berdoa untuk memohon kekuatan untuk melakukan kehendak Tuhan tersebut.
5. JEMAAT MENYANYI
Kita memberi respons kepada hukum Tuhan itu dengan nyanyian. Tentulah kita akan menyanyi dengan segenap hati.
6. PENGAKUAN DOSA
Pada saat kita mendengarkan hukum Tuhan dan kita membuat itu sebagai cermin, maka tentulah kita akan menemukan diri kita di dalam kesalahan. Karena itu kita berdiri di hadapan Allah untuk mengaku dosa-dosa kita. Hanya mereka yang tidak menyadari dosa-dosanya yang tidak mau berdiri di hadapan Allah yang maha kudus untuk mengaku dosa-dosanya. Liturgis dari sisi insani membawakan pengakuan dosa itu ke hadapan Allah. Dari keberadaan seperti itu kita tahu bahwa liturgis itu bukan membacakan kalimat-kalimat di dalam agenda, melainkan melakonkan acara itu di hadapan Allah. Oleh karena itu pula intonasi dari suara sintua ketika mengucapkan doa itu berbeda dengan intonasi dari ucapan berita pengampunan dosa. Dimana pada sisi itu, ia berada di sisi Ilahi ketika ia mengucapkannya. Selah liturgis selesai mengucapkan doa tersebut, kepada kita diberikan kesempatan untuk mengaku dosa-dosa kita secara pribadi di iringi instrumentalia agar semakin khusuk. Kemudian kita mendengar janji Allah tentang pengampunan dosa. Apakah otomatis pengampunan itu dialami oleh setiap orang yang hadir di dalam ibadah itu? Tentulah tidak! Pengampunan itu hanya diterima oleh orang-orang yang sungguh-sungguh mengaku dosanya dan rindu akan keampunan dosanya, merekalah yang mendapatkan pengampunan dosa itu.
Kita langsung mendengar janji Allah tentang pengampunan dosa. Selanjutnya liturgis itu menyuarakan “Kemuliaan bagi Allah di tempat yang maha tinggi” ia menyuarakan itu dari sisi insani. Jemaat akan menyambut doxologi ini dengan Amin. Barulah kita duduk kembali.
7. JEMAAT MENYANYI
Setelah kita menerima pengampunan dosa, wajarlah kita memberi respons dengan nyanyian yang diungkapkan dengan segenap hati kita dan segenap jiwa.
Seperti yang sudah dikatakan diatas. Ibadah kita adalah responsoria bentuknya. Melalui responsoria seperti itu, kita mengalami perjumpaan dengan Allah.
8. EPISTEL
Setelah menyanyi, liturgis akan menyuarakan nats epistel untuk minggu itu. Epistel memberi arahan tentang petunjuk praktis di dalam kehidupan sehari-hari. Penjelasan tentang nats ini kita sudah dengar di dalam kebaktian partangiangan wijk yang diselenggarakan jemaat kita setiap minggu. Sekarang kita mendengarkannya kembali untuk kita lakukan di minggu ini. Bagaimana dengan orang yang tidak datang pada partangiangan wijk? Seyogyanyalah ia akan mempersiapkan diri di rumah sebelum datang ke Gereja, sebab kita memiliki Almanak HKBP. Karena Epistel adalah petunjuk praktis, maka liturgis menutup pembacaan firman Tuhan itu dengan ucapan “Berbahagialah orang yang mendengar firman Allah dan melakukannya”
9. JEMAAT MENYANYI
Kita memberi respons di dalam bentuk nyanyian. Liriknya tentulah sebagai satu pernyataan melakukan firman Allah.
10. PENGAKUAN IMAN
Setelah nyanyian itu kita diundang untuk bangkit berdiri untuk mengucapkan pengakuan iman rasuli. Ucapannya adalah sebagai berikut: “Bersama-sama dengan saudara-saudara seiman di seluruh dunia” satu pertanyaan perlu diajukan, siapa saja yang dimaksudkan dengan saudara-saudara seiman di seluruh dunia itu? maksudnya tentulah tidak hanya orang-orang Kristen yang hadir pada waktu itu, juga bukan hanya orang Kristen yang hidup di Kristen yang sudah mendahului kita. Mereka itu adalah saudara-saudara seiman kita. Jadi tatkala kita berdiri untuk mengaku iman percaya kita maknanya ialah apa yang saya ucapkan tentang diri saya itu tidak berbeda dengan apa yang diimani oleh Nomensen, demikian juga dengan orang Batak yang pertama-tama menerima Injil itu. Sama seperti mereka berdiri mengaku iman yang murni itu, demikian juga kita mengungkapkannya. Bahkan bukan hanya itu saja. Di tempat itu hadir juga orang-orang Kristen dari generasi yang akan datang. Mereka hadir di dalam diri Kristus. Sebab HKBP adalah salah satu dari penampakan tubuh Kristus yang berasal dari segala kaum dimuka bumi ini. Tubuh Kristus adalah Gereja yang tidak kelihatan, mencakup seluruh totalitas orang Kristen dulu, sekarang dan nanti. Bilamana kita memahami HKBP adalah salah satu penampakan tubuh Kristus , maka ketika kita beribadah, itu adalah ibadah dari tubuh Kristus. Maka di sana hadir juga orang yang tidak hadir. Sama seperti yang dikatakan Musa di padang gurun kepada bangsa Israel, bukan hanya dengan kamu saja aku mengikat perjanjian dan sumpah janji ini, tetapi dengan setiap orang yang ada di sini pada hari ini bersama-sama dengan kita, yang berdiri di hadapan Tuhan Allah kita, dan juga dengan setiap orang yang tidak ada di sini pada hari ini bersama-sama dengan kita.
Orang yang hadir di dalam ibadah itu “secara iman” tetapi tidak hadir secara fisik, mereka itu adalah generasi pendahulu, dari masa yang lalu dan generasi yang akan datang. Jadi jika seorang pemuda berdiri di situ dan mengaku imannya, maka di dalam dia hadir juga anak cucunya kelak. Bersama pemuda itu, anak cucunya yang ada di dalam dia, hadir juga dia,turut juga mengucapkan pengakuan iman tersebut itu. Argumen untuk itu sudah dikatakan di atas, yaitu di dalam Kristus. Argumen tambahan kita utarakan di sini, ialah menurut surat Ibrani, Ibrani.7:4-10 bahwa Lewi di dalam Abraham bapa leluhurnya, ia juga turut mempersembahkan perpuluhan kepada Melkisedek, tatkala Abraham mempersembahkan perpuluhan tersebut. Pada hal Lewi pada waktu itu belum lahir. Mengapa Lewi dikatakan turut mempersembahkan? Karena ia ada di dalam diri Abraham bapa leluhurnya itu. Sama seperti itulah pemahaman kita tatkala berdiri mengucapkan pengakuan iman itu. Kita mengucapkan hal itu di dalam Kristus, dan di dalam Kristus hadir juga generasi dahulu dan generasi nanti. Alangkah agungnya ibadah kita itu!
Di dalam pemahaman secara pribadi, tatkala kita mengucapkan pengajuan iman percaya itu, maka saya mengucapkan pengakuan itu dihadapan Allah dan para malaikatNya; di hadapan orang-orang percaya di sepanjang masa, dan juga di hadapan roh-roh jahat di udara! Orang-orang kudus yang telah mendahului kita itu, disebut penulis surat Ibrani sebagai para saksi ( Ibrani 12:1).
11. WARTA JEMAAT
Setelah kita mengaku iman percaya kita, maka tiba saatnya kita mendengar Berita dari sesama anggota keluarga Allah. Orang yang berdiri di sisi saya itu, di depan disamping dan dibelakang, adalah saudara satu Bapa di dalam Tuhan. Didalam persekutuan dengan Allah dan dengan sesama keluarga Allah, kita mendengar berita dari Allah, dan berita dari sesama. Di dalam warta jemaat itu, kita akan mendengar berita tentang kelahiran seorang anak di dalam kelauarga saudara seiman. Biasanya warta itu senantiasa diakhiri dengan sebuah doa : semoga Tuhan memberkati anak itu beserta orang tuanya. Kita pun turut meng-amin- kan hal itu di dalam hati. Bila kita berjumpa dengan kedua orang tua yang berbahagia itu, maka kita pun mengucapkan selamat berbahagia kepada mereka, sebagai respons aktif kita terhadap warta tersebut.
Melalui warta itu pun kita akan mendengar rencana saudara kita yang akan menikah. Kita pun wajib memeriksa kelayakan dari orang-orang yang akan menikah tersebut. Bilamana ada hal-hal yang tidak pas menurut RPP dari Gereja kita, maka wajiblah kita memberitahukan hal itu kepada pendeta dan parhalado untuk ditindaklanjuti. Namun jika kita tidak mengetahui ada hal-hal seperti itu, maka wajiblah kita mendoakan rencana pernikahan mereka itu, karena mereka adalah saudara kita. Jika kita berjumpa dengan mereka, atau kedua orang tua kedua belah pihak, kita pun akan menyampaikan salam kepada mereka, untuk menunjukkan bahwa kita turut bersukacita atas rencana pernikahan tersebut.
Kita pun mendengar warta dukacita tentang meninggalnya anggota keluarga Allah. Warta ini senatiasa ditutup dengan doa pula : semoga Tuhan memberikan penghiburan dan kekuatan iman bagi anggota keluarga yang berdukacita itu kitapun mengaminkan doa itu di dalam hati kita. Sebagai penampakan dari kata amin itu, maka kita pun pergi melayat ke rumah duka. Kita menghibur orang yang berduka itu di rumah duka dan mendoakan mereka di rumah kita masing-masing, karena mereka adalah saudara di dalam Tuhan.
Di dalam warta itu juga kita mendengar warta tentang keuangan jemaat kita dan warta-warta lain. Semuanya itu harus diberi respons sesuai dengan kemampuan kita masing-masing. Oleh karena itu seharusnya kita mendengar warta itu dengan sepenuh hati. Namun jika kita perhatikan sikap dari anggota jemaat pada saat warta jemaat banyak dari antara mereka yang acuh tak acuh, banyak yang ngobrol. Hal itu terjadi tentulah karena mereka tidak memahami makna dari warta jemaat di dalam ibadah kita.
12. JEMAATMENYANYI
Sebagai repons bersama terhadap warta itu, kita bersama sama menaikan pujian kepada Allah, sekaligus persiapan untuk mendengar firman Allah. Ingat respons kita senatiasa di dalam doa atau pujian. Di HKBP Bonang Indah kita sekaligus mengumpulkan persembahan kolekte 1A dan 1B.
Beberapakali saya dengar liturgis mengatakan “Marikah kita bernyanyi sambil mengumpulkan persembahan” seolah acara pokok ialah bernyanyi; padahal acara pokoknya ialah mengumpulkan persembahan. Menurut hemat saya ucapannya seharusnya “Marilah kita mengumpulkan persembahan kepada Tuhan sambil kita bernyanyi” Acara persembahan itu bukanlah sambilan. Di dalam kitab Keluaran 23:15 kita baca bahwa Tuhan memerintahkan Israel jika datang kepada-Nya agar datang dengan persembahan dan tidak boleh dengan tangan hampa. Kita harus memahami persembahan itu adalah sesuatu yang kudus, sehingga persembahan itu seyogyanya telah disiapkan dari rumah. Kita menyerahkan persembahan itu dengan sukacita, sebab yang menerimanya ialah Allah Bapa kita. Mulut kita memuji Tuhan, sementara tangan kita pun memuji Dia di dalam persembahan itu. Jika kita konsisten dengan pemahaman bahwa yang berdiri di altar itu adalah Dia yang merepresentasikan Tuhan Yesus, maka menurut hemat saya liturgislah yang harus menerima persembahan itu dari para pengumpul persembahan. Namun perlu diingat bahwa persembahan itu harus ditaruh di meja Tuhan, bukan seperti sekarang ini ditaruh di peti tersendiri. Saya tidak dapat mengerti apa makna dari peti itu.
13. KHOTBAH
Seperti yang sudah diuraikan di atas, liturgis yang berdiri di altar itu pada hakekatnya bukanlah pribadi liturgis melainkan Yesus Kristus yang berdiri di sana; demikian juga halnya dengan pendeta yang berdiri di mimbar. Pendeta itu adalah representasi dari Yesus Kristus. Itulah sebabnya perkataan yang pertama keluar dari mulutnya ialah Damai sejahtera yang melampaui segala akal akan memelihara hati dan pikiranmu di dalam Kristus Yesus . Amin.” Jika kita melihat dia yang berdiri itu adalah manusia, maka tentulah tidak ada berkat yang datang dari dia. Namun jika mata iman kita melihat bahwa dia yang berdiri di altar itu adalah Tuhan sendiri, maka tentulah berkat akan mengalir dari Dia.
Kita datang ke dalam ibadah minggu bukan hanya untuk mendengar firman Tuhan, tetapi untuk berjumpa dengan Dia dan berjumpa dengan sesama saudara di dalam keluarga Allah. Sekalipun khotbah pendeta itu tidak terlalu pas dengan isi hati kita, namun kita harus sadar dengan tujuan ibadah kita tadi. Kita akan tetap mendapat berkat dari perjumpaan itu. jika nats Epistel adalah petunjuk praktis dalam kehidupan, maka Evangelium adalah doktrin iman Kristen. Sehingga ada keseimbangan antara etika ” petunjuk pratis ” yaitu epistel dan doktrin, yaitu evangelium setelah pengkhotbah menyampaikan isi hati Allah, maka sebagai wakil manusia ia menaikkan doa syafaat bagi isi dunia. Kita pun turut mengaminkan doa itu di dalam hati kita. Perlu ditekankan di sini, khotbah bukanlah inti dari ibadah minggu kita. Keseluruhan acara itu, yaitu perjumpaan dengan Allah adalah arti dari ibadah minggu HKBP.
14. JEMAAT MENYANYI
Setelah kita mendengar khotbah, yang isinya adalah isi hati Tuhan untuk dilaksanakan pada minggu ini, maka kita pun memberi respons dengan memberi
persembahan. Kembali kita (di HKBP Bonang Indah) mengumpulkan persembahan Kolekte 2.
Terkadang dalam kebaktian / Ibadah Minggu kita mengumpulkan persembahan ke depan. Harus kita maknai bahwa kita membawa persembahan ke altar (ke hadapan Allah). Oleh karenanya seyogyanya ketika menyerahkan/memasukkan persembahan tersebut ke kotak persembahan, kita berhenti dan menghadap altar, baru kemudian memasukkan tangan kita ke kotak persembahan.
Kondisi yang saya perhatikan banyak di antara jemaat yang berjalan sambil memasukkan persembahan bahkan pandangannya tertuju ke jalannya (orang di depannya / terkesan asal di serahkan).
15. PENUTUP
Acara akan berakhir, maka kita berdiri kembali di hadapan Allah, untuk diutus kembali ke dalam kehidupan sehari-hari. Kita menyerahkan persembahan kita itu lebih dahulu di dalam doa. Yesus membawa persembahan itu ke hadirat Allah melalui doa sang liturgis(pelayan firman). Kita pun mengaminkan doa itu didalam hati. Persembahan itu diterima Allah, lalu kita memberi respons dengan nyanyian : ”Tuhan karunia-Mu”.
Kita bukan hanya mempersembahkan uang kita, tetapi totalitas kehidupan itu dipersembahkan kepada Allah. Sebagai doa penutup kita mendengar doa Bapa kami yang kita responi dengan doxologi “karena Engkau yang punya…. Setelah itu kita diutus pulang dengan berkat, yaitu : Berkat dan perlindungan, perhatian ( saya memahami makna dari Tuhan menghadapkan wajah-Nya ) dalam pengertian perhatian penuh, atensi; dan kasih karunia-Nya. Sinar wajah adalah kemuliaan, pun menyertai kita, sama seperti Musa mendapatkan hal itu di atas gunung Sinai, dan yang terakhir adalah Damai Sejahtera. Syalom Allah. Lalu respons terakhir kita ialah Amen tiga kali. Amen ini bukan hanya mengaminkan berkat tersebut tetapi mengaminkan untuk setiap acara yang telah kita ikuti dari awal hingga akhir.
Jadi jika kita mengikuti acara ibadah minggu kita dalam pengertian seperti diuraikan diatas, tentulah kita akan pulang dengan berkat dari Tuhan kita. Kita pun akan diubahkan menjadi manusia baru di dalam Yesus Kristus.
Catatan akhir :
Pertanyaan timbul di lubuk hati yang paling dalam ! Kapankah HKBP mengajarkan hal itu kepada warga jemaatnya?
Saya pribadi baru mendapatkan ajaran tentang makna Tata Ibadah HKBP ketika kami “Learning” menjadi sintua di HKBP Bonang Indah dan membaca tulisan amang St. Hotman Ch Siahaan di http://h-k-b-p.blogspot.com/
Bagaimana dengan anggota jemaat kapan mereka mendapatkannya?
Semoga tulisan ini dapat meneguhkan iman kita, dan memampukan kita menghayati keindahan dan keagungan serta makna ibadah kita. Sehingga tidak terlalu gampang untuk mengatakan ibadah HKBP sebagai sesuatu yang monoton! Semoga!
Dirangkum oleh : St. Sampe Sitorus, SE
Melayani di HKBP Ressort Bonang Indah
Referensi :
- Pelajaran tentang Maragenda oleh Pdt. Johannes Siregar, STh
- Makna dari Ibadah Minggu di HKBP oleh St. Hotman Ch Siahaan http://h-k-b-p.blogspot.com/

























